Selasa, 31 Maret 2009

Perayaan 6 Tahun SLB Autis Fredofios dan Hari Autis Internasional

PLEASE DONT SHUT ME UP
JUST BECAUSE I'M DIFFERENT
3 April 2009 nanti, SLB Autis Fredofios genap berusia 6 tahun. Sejak berdirinya sekolah ini, telah banyak siswa-siswi penyandang autis yang merasakan pendidikan khusus, telah menemukan bakat-bakatnya, menjadi mandiri dan semakin percaya diri untuk melangkah ke dunia luar. Meskipun begitu, ternyata masih ada orang-orang di sekitar mereka yang memperlakukan berbeda. Ketika mereka sosialisasi ke swalayan, pasar, mall, naik bis dan pergi ke tempat umum lainnya, seringkali mereka mendapat tatapan aneh, sikap cuek, mendapat punggung, malah ada yang bersikap takut dan menghindar. Para guru yang mendampingi merekapun dengan sabar dan senyum di wajah mencoba menjelaskan kepada masyarakat yang ditemuinya.
Kurangnya pengetahuan mengenai autism menjadi salah satu penyebab. Banyak remaja di Yogyakarta belum mengerti arti autism. Ada pula mahasiswa yang ingin penelitian di SLB Autis Fredofios ternyata belum paham benar tentang autism, bahkan bersikap agak takut dan menjaga jarak dengan para siswa.
Berlatar belakang hal itu maka kami menyelenggarakan perayaan HUT SLB Autis Fredofios dengan menghadirkan Mr. Fred Vrugteveen untuk Talk Show tentang Autism dan Pendidikan. Para siswa juga akan memamerkan beberapa lukisan, unjuk bakat dan sharing saudara kandung siswa. Acara tersebut diselenggarakan di Djambur Coffee, Jl. gambir 17 Karangasem Baru Catur Tunggal Yogyakarta, tepatnya di belakang Percetakan Kanisius. Acara ini akan mengundang para keluarga siswa, wakil dari sekolah-sekolah autis di Yogyakarta, wakil dari P3Tka, dan terbuka untuk umum, berlangsung pukul 19.00 - 21.00 WIB. Bagi masyarakat yang ingin hadir kami memberikan kesempatan emas untuk mendaftar, tidak dipungut biaya, namun diharapkan untuk membawa uang saku untuk makan dan minum di Djambur Coffee.
Djambur Coffee sebagai tempat yang kami pilih karena kami pernah satu kali tampil disana sebagai pembuka acara pentas Teater. Djambur Coffee sering mengadakan acara seni dan budaya yaitu pentas teater, monolog, wayang pandora, musik, diskusi budaya, dan masih banyak lagi. Djambur Coffee merupakan tempat yang efektif untuk memberikan informasi mengenai autism pada masyarakat khususnya para remaja yang seusia dengan para siswa di SLB Autis Fredofios.
Menurut Della Adelina, S.PSi selaku koordinator, bahwa kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan Festival Autis yang akan diselenggarakan bulan Mei 2009 mendatang. Diharapkan dengan acara ini dapat menggugah kepedulian masyarakat untuk selalu menghargai hak-hak penyandang autis dan memberikan perlakuan sama pada mereka.
by : Dewi Retno Pertiwi, S.Psi

Sabtu, 14 Maret 2009

Sosialisasi Pada Penyandang Autis

Dapatkah Penyandang Autis Berada Di Tempat Umum??????
Penyandang autis mengalami gangguan komunikasi, gangguan sosialisasi dan perilaku. Pada penyandang autis biasanya mengalami kesulitan untuk beradaptasi di lingkungan baru apalagi di lingkungan umum yang ramai dan bising. Mereka memiliki sensitivitas tinggi pada inderanya, sehingga seringkali penyandang autis “kacau” saat dibawa ke tempat umum. Tetapi kemampuan adaptasi dan sosialisasi pada penyandang autis harus selalu dilatih dan dibiasakan untuk bertemu orang-orang, dibawa ke keramaian, supaya mereka dapat terbiasa dengan lingkungannya.

Banyak penyandang autis yang belum dapat beradaptasi di lingkungan masyarakat. Mereka merasa aman di rumah ataupun di sekolah. Orangtua kadang-kadang menjadi takut untuk membawa anaknya ke tempat umum. Alasannya karena anak cenderung “tantrum”, “Kacau”, sehingga orangtua tidak berani mengambil resiko. Sehingga banyak penyandang autis yang tidak pernah keluar dari rumah, bahkan jika diajak jalan-jalanpun hanya di dalam mobil terus menerus dengan membawa plastik untuk buang air kecil, membawa bantal, membawa makanan dan minuman karena tidak berani mengajak anaknya keluar. Jika terus berlanjut dan tidak ada usaha untuk mengajak anak untuk keluar maka anak akan terus menerus berada dalam dunianya sendiri, agresivitas muncul jika bertemu orang baru, sensitive dan tidak mandiri.
Lain dengan Osi, remaja autis yang saat ini berusia 23 tahun, putra dari Bapak Bugi, ia sejak kecil sudah diajak keluar rumah, menonton pacuan kuda saat di Australia, diajak bermain ke taman bersama anak-anak lain, belanja di supermarket dan tempat umum lainnya. Resiko hilang, tantrum, malu, sudah dirasakan oleh kedua orangtuanya. Tetapi sampai saat ini kebiasaan orangtua mengajak Osi berjalan-jalan masih dilakukan. Karena sejak kecil sudah sering diajak bersosialisasi maka ketika dewasapun Osi tidak mengalami masalah saat diajak ke Dufan, Sea World, tempat-tempat wisata lainnya dan bahkan ke Malaysia.
Inilah cerita Osi ketika ia pergi ke Dufan dan Sea World. Cerita ini merupakan karya Osi sendiri, asli dan tanpa dibantu saat mengetik cerita. (Dewi Retno.P.,S.Psi)

PERGI KE DUFAN DAN SEA WORDL DENGAN NAIK MOBIL

Pada hari Sabtu keluarga Pak Bugi bersama Pak Bannar ke Dufan, naik mobil Daihatsu Espass. Osi duduk di muka, Osi duduk sambil melihat kabel listrik di Propinsi Daerah khusus Ibukota, ada kendaraan darat mobil supaya baik jalan-jalannya.

Pada suatu hari ada kereta Rel Listrik (KRL), ketika Pak Bugi, Osi Bu bugi, Redi, Cesar, Denita, dan Pak Bannar sedang dalam perjalanan ke Bank Mandiri. Kami akan berhenti mobil sejenak di tangga berkarang guna melihat gedung bertingkat. Kemudian kami melihat-lihat ada kendaraan darat di Propinsi Daerah khusus Ibukota. Kami meninggalkan Bank Mandiri terus ke Dufan.

Waktu perjalanan Osi melihat jalan tol, gedung bank, BI-JKT, Tugu Monas, RRI-JKT, Kereta Rel Listrik (KRL) di atas. Kami akan berhenti mobil sejenak di pinggir jalan guna melihat jalan, mobil.

Di parker roda 4 ketika Osi dan sahabat-sahabatnya melihat ada jalan, ada toko-toko, ada mobil, ada orang, ada pohon, dan lain-lain. Osi makan snek dan minum buah sambil melihat ada kendaraan di darat. Segera setelah itu, para sahabat Osi segera naik mobil. Kami akan ke Dufan dengan naik mobil Daihatsu Espass.

Waktu perjalanan Osi melihat jembatan kereta, sungai, pohon, jembatan laying yang menuju ke Dufan. Setelah sampai di parker mobil jam 11:00 siang kemudian kami membawa makanan snek dan minuman buah terus jalan-jalan ke Dufan.

Waktu jalan-jalan Osi melihat parker roda 2, pohon nyiur, orang-orang yang menuju Dufan. Kami akan masuk ke dalam Dufan sambil melihat beberapa bermain dewasa dan anak-anak penginapan sebuah bermain.

Kami jalan-jalan sambil melihat beberapa orang penginapan sebuah bermain kuda keliling, kereta ayunan, helicopter, kereta api, dan lain-lain. Kemudian kami jelan-jalan sambil melihat pemandangannya. Osi dan sahabatnya sepakat melihat bermain kereta api. Taman Impian jaya Ancol (Dunia Fantasi [Dufan]) terletak di Propinsi Daerah Khusus Ibu Kota. Osi istirahat makan snek dan minum buah sambil melihat banyak orang.

Di Dufan Osi melihat pohon, rumput, orang, bermain dewasa dan anak-anak, penjualan es krim, dan masih banyak lagi. Kemudian kami akan minum es krim dan minum es buah. Selesai minum es krim/buah terus melihat pemandangannya. Ketiak osi dan sahabat-sahabatnya beberapa bermain dewasa dan anak-anak penginapan sebuah bermain.

Kami jalan-jalan ke naik keeta ayunan sambil melihat banyak orangnya. Di Dufan Osi melihat orang, pohon, rumput. Ketika Osi dan sahabt-sahabatnya melihat pemandangan sambil menunggu kereta ayunan. Selesai menunggu terus naik kereta ayunan.

Diwaktu naik kereta ayunan Osi melihat Teluk Jakarta, gedung bertingkat, orang-orang, Laut Jawa, kabel listrik, Mesjid Istiqlal di Propinnsi Daerah Khusus Ibukota, air laut berwarna biru, rumah bertingkat, jembatan laying dan masih banyak lagi. Osi dan sahabtnya sepakat melihat pemandangannya. Setelah turun dari kereta ayunan terus minum es dawet.

Di Dufan kami minum es dawet sambil melihat orang, pohon, rumput, penjualan es dawet, dan lain-lain. Selesai minum es dawet terus jalan-jalan ke naik becak air. Waktu jalan-jalan Osi melihat pohon, orang, rumput, dan lain-lain. Kami akan naik becak air sambil melihat banyak orang yang ada pengunjungnya. Selesai menunggu terus naik becak air.

Di waktu naik becak air Osi melihat Pakaian Adat di Indonesia, Pulau Jawa, Pulau Bali, Negara Inggris, Negara RRC, Negara Saudi Arabia, Negara Australia, Negara Jepang, Negara Korea Selatan, dan masih banyak lagi. Setelah turun dari becak air terus jalan-jalan ke parker mobil.

Osi dan sahabatnya sepakat melihat parker roda 2, kabel listrik, orang, hotel. Kami meninggalkan terus Sea World dengan naik mobil.

Waktu perjalanan Osi melihat jembatan laying, kabel listrik, sungai, pohon, gorong-gorong yang menuju Sea World. Setelah sampai di parkir mobil jam 4;45 sore kemudian kami melihat Dunia Laut, bahasa Inggris-Nya Sea World. Sea World terletak di Kecamatan Ancol, Kota JAkut, Propinsi Daerah Khusus Ibukota.

Di Sea World Kami melihat ikan laut, bahasa Inggris-Nya sea fish. Kami berdiri terus melihat ikan-ikan dan melihat Kapolda Metro Jaya. Kami akan masuk ke dalam RM CFC terus istirahat duduk di kursi sambil menunggu minum Coca-Cola dan makan nasi ayam goring. Kami ke kamar kecil/cuci tangan dulu terus duduk di kursi saja, tetapi Osi melihat orang-orang sedang duduk di kursi. Selesai menunggu terus makan nasi ayam goring dan minum Coca Cola. Selesai makan dan minum terus pulang ke tempat rumah dengan naik mobil.

Waktu perjalanan Osi melihat jembatan laying. Kereta Rel Listrik (KRL), jembatan kereta, [jes,jes,jes,jes bunyi kereta api], Tugu Monas, Gedung Bank. “Osi suka Dufan dan Sea World.” “Osi senang dengan naik kereta ayunan dan becak air.”
“Sampai jumpa besok lagi waktu yang sama.”

Karangan oleh : Osi Novarga
Hari/tanggal : Sabtu, 13 Oktober 2001.

Kamis, 05 Maret 2009

MURAL 1001 TONG SAMPAH


Remaja Autis Peduli Lingkungan



Eeh siapa bilang para remaja diffble nggak peduli sama lingkungan????

Mereka malah lebih peduli lho daripada orang-orang normal yang sukanya buang sampah sembarangan, memakai air berlebihan, dan perusakan lingkungan yang mengakibatkan bencana terjadi di bumi Indonesia. Remaja Diffble di Fredofios peduli banget dan amat sangat menjaga kebersihan lingkungan mereka. Misalnya saja Osi, Opiq, Ivan, Todi, Tia dan Dian, mereka selalu membuang sampah di kerangjang/tong/tempat sampah. Dimanapun mereka berada jika selesai makan atau minum sesuatu, pasti akan mencari tempat sampah untuk membuang bungkus makanan/minumannya. Apalagi Niko, eks siswa Fredofios, ia sangat peduli sama kebersihan, buktinya tiap kali ada mobil pengangkut sampah akan lewat Fredofios, ia sudah mendengar duluan padahal jaraknya masih jauh banget. Guru-gurunya aja belum mendengar suara mesin mobil sampah itu. Tapi Niko udah mendengar suara khas yang dihasilkan dari mobil sampah itu. Dia buru-buru mengambil semua tempat sampah yang ada di sekolah, secara bergantian ia keluarkan dari sekolah dan dibawa ke dekat pintu gerbang supaya petugas sampah mengambilnya. Tidak puas hanya dengan sampah-sampah di fredofios, ia masih mengikuti mobil sampah itu dan memunguti sampah-sampah yang ada di pinggir jalan Indragiri sekitar gedung sekolah dan rumah-rumah penduduk. Jika ia melihat sampah menumpuk di halaman orang, iapun ingin segera membakarnya. Hmm…patut ditiru tuh kebiasaan Niko. Meski dia tergolong remaja autis, tapi dia sangat peduli dengan kebersihan lingkungannya.

Lain lagi dengan Osi, saat istirahat, Osi selalu membuangkan bungkus makanan/minuman milik teman-temannya. Karena kebiasaannya itu, maka lama kelamaan teman-temannya justru memberikan bungkus makanan/minumannya pada Osi kemudian Osipun membuangnya di tempat sampah. Osi juga sangat hemat air, ia selalu memenuhi baik kamar mandi, jika sudah penuh maka ia segera mematikan kran. Begitu juga jika ada lampu yang menyala padahal ruangan itu nggak dipakai, Osi langsung aja mematikan lampu itu.

Opiq, suatu saat jalan-jalan ke mall, setelah selesai makan es krim, ia menyeka mulutnya pakai tissue. Lalu ia bilang, “Opiq buang tissue.” Dan mencari tempat sampah. Begitu juga dengan Ivan, siang itu Ivan ikut Mural 1001 tong sampah yang diadakan oleh Desain Interior seluruh Indonesia. Ivan ditemani dua orang temannya, Mutia dan Todi juga para guru-guru yang semangat mendaftarkan mereka untuk ikut Mural tersebut.

Dari rumah Ivan sudah dibekali berbagai macam snack dan minuman. Kami berangkat dari sekolah naik mobil milik keluarga Mutia, diantar supir menuju ke Benteng Vredeburg yang letaknya nggak jauh dari Malioboro. Sampai disana, Ivan langsung membuka bungkus kacang kulit dan makan sendiri, nggak nawarin ke teman dan gurunya. He he he…Selesai makan Ivan bingung ingin membuang bungkus kacangnya. Disuruh menyimpan bungkus di tas Ivan nggak mau, akhirnya mau nggak mau Bu Della dan Ivan keliling kompleks Benteng mencari tempat sampah. Eh padahal banyak tong sampah lho disitu, tapi…buat acara mural. He he he…
Akhirnya ketemu juga tempah sampah yang dicari dan …blung…bungkusnya masuk deh! Ivanpun puas dan ikut menjaga kebersihan. Hebat kan???

Tongpun segera diambil sama Pak Catur dan Pak Samsul, didalamnya sudah terdapat cat akrilik warna merah, kuning, biru, hitam dan putih, gelas plastik untuk tempat cat dan Koran bekas untuk alas melukis mural tong sampah. Cukup mendaftar Rp. 20.000, semua orang dari segala lapisan masyarakat, tua – muda, siswa – mahasiswa, seniman, tukang becak, penjual, pengamen, guru, penyandang autis, boleh mengikuti acara ini.

Kamis, 26 Februari 2009 jam 09.00 – 17.00 WIB di halaman dan sepanjang jalan di dalam Benteng Vredeburg acara Mural diadakan. Selain Mural, ada workshop, pameran, seminar dan menghadirkan bintang tamu Dik Doank dari Jakarta. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Mahasiswa Desain Interior ISI seluruh Indonesia. Ternyata banyak banget peserta yang ikut. Suasananya juga ramai karena ada panggung terbuka dan Dik Doank menyanyi sambil bermain gitar.

Tiba-tiba panitia mendekati tempat kami menunggu acara dimulai, mereka membawa setumpuk Koran yang akan dibagikan pada peserta. Ivan jadi gatel tangannya untuk mengambil Koran-koran itu dan mencari gambar-gambar partai politik. Bu Della melarangnya, dan Ivanpun mulai “gelisah.” Aduuh…bisa-bisa Ivan ngambek nggak mau menggambar dan ikut mural deeh. Gimana ya caranya??? Hmm, guru-guru cepat-cepat cari akal. Mikir…mikir…ting…ada ide, kita harus menjauhkan Ivan dari mereka. Ayo pindaaah….Ivanpun digandeng dan sedikit ditarik supaya menjauh.

Kami memilih tempat yang teduh biar nggak kepanasan, tadinya mau dibawah pohon rindang tapi dekat sama stand makanan dan minuman, akhirnya pindah agak menjauh dari stand-stand itu karena khawatir Ivan minta jajan.
Sebelum mulai, Todi dan Tia sempat berfoto bersama Dik Doank. Awalnya Dik Doank nggak mau foto, dia bilang,”Nanti aja, melukis dulu ya.”
Tapi Todi nggak kalah pintar, lihat aja jawabannya, “Lho kan belum mulai melukisnya.” Hehehe…Dik Doank nggak bisa berkata apa-apa lagi dan “Klik.” dengan kamera Hp Todi dan Tia berfoto bersama Dik Doank.

Ternyata Ivan masih memikirkan setumpuk Koran-koran yang dibawa panitia. Belum selesai satu masalah, Ivan sudah merengek minta Es Teler. Aduuh…Ivan, lihat Mbak Tia dan Todi udah mulai membersihkan tong dari kertas-kertas yang menempel di tong. Lihat teman-teman yang lain, dari SMP dan SMU umum, mereka udah mulai mengecat dan melukisi tong mereka. Ayo Ivan…
Hmmm, ternyata Ivan tetap nggak mau melukis. Akhirnya Pak Agung menjajikan untuk membelikan Koran KR, Ivan udah senang banget tuh dan menunggu Pak Agung. Setelah ditunggu, ternyata Pak Agung kembali dan nggak membawa Koran yang dijanjikannya. Hallo Pak Agung…mana janjinya buat Ivan?? Eh kok malah Koran lain yang dibawa dan nggak ada gambar partai seperti yang diinginkan Ivan.
“Huuu…aaa…” kata Ivan. Ivanpun merengek dan nggak peduli dengan orang-orang disekitarnya. Akhirnya Pak Agung pergi lagi mencarikan Koran KR buat Ivan. Dan cling…setelah dapat Koran yang diinginkan, Ivan kembali ceria, dan mau menggambari tongnya dengan gambar tugu, peta dunia dan lambang-lambang kabupaten.
Sementara Tia menggambari tongnya dengan gambar orang-orang di taman, dan Todi asyik menggambari tongnya dengan jalan raya dan papan-papan iklan.

“Pak Catur, emang Todi bisa?” Bu Dessi, mama Todi sempat meragukan Todi. Karena selama ini Bu Dessy nggak pernah lihat hasil karya Todi. Wah Bu Dessy juga ikut semangat neh menemani kami sampai selesai. Malah jadi sponsor utama juga, membelikan makan siang buat kami. Makasih Bu Dessy…. J

Tiba-tiba Ivan berubah idenya, Tugu yang tadinya udah digambar Ivan, ia timpa dengan cat warna merah dan putih, gara-gara lihat teman dari SMP 4 melukis langsung dengan cat. Dan apa yang digambar Ivan? Wah…logo sebuah stasiun swasta…Ayo Van semangat!!! Eeh belum selesai melukis, Ivan kembali merengek minta Es Teller. Nggak konsentrasi lagi deh. Okey deh Van, ayo beli es teller. Bu Dewi dan Mbak Nadin menggandeng Ivan menuju ke stand makanan dan minuman melewati kerumunan peserta mural yang sedang asyik melukis tong sampah. Ivan segera memesan es teller dan bakso. Ternyata kamu lapar juga ya Van? Tapi Bu Dewi nggak kalah cerdik sama Ivan, Bu Dewi minta Ivan untuk berjanji akan melukis lagi setelah makan dan minum. Dan benar…Ivan semangat melukis lagi dan mampu bertahan sampai jam 2 siang ditengah-tengah keramaian Mural Tong Sampah. Hebat kamu Van!!!

Tapi ada peristiwa lucu dan unik disela-sela Ivan melukis, Ivan yang dibantu Bu Della, sempat istirahat dan tengkurap di kursi taman, nggak peduli sama orang-orang disekitarnya. Setelah itu bilang “E’ek.” Dan mau nggak mau guru pendamping Ivan harus rela mengantar Ivan ke toilet. Nggak Cuma itu, Ivan mengajak pulang juga, padahal belum dijemput sama Pak Bowo supir Tia. Pak Agung mencoba mengalihkan dengan mengajak Ivan jalan-jalan, eh ternyata Ivan sempat bergulung-gulung di rumput taman yang mengelilingi benteng. Lalu kembali lagi ke kelompok. Pak Agung sempat mengkhawatirkan Ivan yang terus merengek minta pulang karena mungkin sudah bosan dan lelah. Berkali-kali Pak Agung menanyakan tentang Pak Bowo. Ivan juga sempat menarik Mbak Nadin, mengajaknya berkeliling bersama Pak Agung juga. Eh tiba-tiba Pak Agung kembali menghampiri kami dan mengatakan bahwa Ivan hilang. Hah, Ivan hilang????
Bu Della segera turun tangan dan mencari Ivan. Koq bisa???
Waduh, gawat neh…Gimana???
Oh..ehm..ehh ternyata Ivan nggak hilang koq, Ivan sedang bergandengan tangan bersama Mbak Nadin, mereka nampak santai san hepi, rupanya mereka baru saja melihat bendera dan gedung Bank BNI yang nggak jauh dari Benteng Vredeburg.
Lalu merekapun duduk santai di teras museum, sambil menunggu Tia dan Todi yang belum selesai mewarnai gambar.

“Lho, Mbak Tia, warna baju dan celana orangnya kok hitam, biru dan merah? Warna lain juga boleh koq. Mbak Tia mau warna pink?” kata Bu Dewi. “Iya.” Jawab Tia.
Ooh…ternyata Tia belum paham bahwa cat-cat itu boleh dan bisa dicampur-campur sehingga menghasilkan warna lain. Bu Dewipun cepat-cepat mencolek cat dan mencampurnya di gelas plastik. Dan warna pink, hijau muda, biru muda dan cokelat dihasilkan dengan tangan terampil Bu Dewi. Tia jadi lebih semangat mewarnai tong sampahnya yang berjudul Taman hati. Dengan dibantu Bu Dewi, Bu Della dan Pak Catur, Tia semakin semangat mewarnai tongnya. Tia terlihat seperti pelukis professional, lihat saja gaya berpakaiannya, ia pakai t-shirt, celana jeans, topi, dan celemek yang biasa dipakai untuk melukis. Dengan kuas-kuasnya, Tia mulai mewarnai gambar hati dengan warna pink, ada gambar orang sedang duduk di taman, ada yang berdiri bersama temannya, ada gambar kupu-kupu, bunga-bunga, pohon rindang, tong sampah, awan, matahari, semua menjadi sebuah cerita tentang sebuah lingkungan yang indah, bersih dan berseri-seri. Tia melukis sesuai tema yang ditentukan oleh panitia yaitu Psychological Design; Changing Habits. Tia melukis dengan tenang, dan nggak ada suara. Kami mengkondisikan Tia, Todi dan Ivan supaya menghadap ke arah spanduk dan kursi taman yang kebetulan didekat kami nongkrong, sehingga mereka nggak terganggu oleh pemandangan dan distraksi pandangan yang saat itu banyak orang, tong dan lalu lalang fotografer maupun orang-orang yang asyik melihat.

Todi sempat nggak boleh istirahat untuk makan dan minum karena dilarang mamanya. Menurut mamanya, Todi harus menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu. Tapi Todi udah ingin makan tuh Bu, lihat Ivan, Tia dan guru-gurunya makan mie ayam dan minum es teller. Dengan dibantu guru-gurunya, akhirnya Bu Dessi mama Todi berhasil dibujuk untuk mengijinkan Todi makan makanan yang dibawa dari rumah. Hmm, makanan khusus ya, karena Todi diet jadi harus membawa makanan dari rumah. Wah, lahap banget makannya Tod!!
Selesai makan, Todi mewarnai tongnya lagi. Ayo, semangat… “Mbak,mbak, tolong dong…pegangin tongnya.” Kata Todi pada Mbak Nadin mahasiswa psikologi UGM yang menjadi sukarelawan magang di Fredofios.
“Pak Catur…jalannya warna apa?”
“Pak Catur, kesini dooong…” kata Todi.
“Pak Catur, sungainya warna hijau.” Kata Todi lagi.
“Lho, sungai koq warna hijau?” tanya Pak Catur.
“Iya, inikan sungainya berlumut.” Jawab Todi.
“Todi ini gambar apa?”
“Ini gambar pipa air.” Jawab Todi disela-sela melukis.
“Ayo Todi, selesaikan dulu nggambarnya.” terdengar suara Bu Dessy.
“Aduh Pak catur, tumpah nih air catnya.” Kata Todi.
“Ivan, jangan ditaruh dipaha, nanti celananya kotor.” Kata Bu Della.
Ivan mencoba mengangkat tong yang sedang dicat.
“Ivan, tong taruh dibawah, nanti celana Ivan kotor.” Kata Bu Della lagi.
“Aaa…..” Ivan ngotot mengangkat tong dan ingin menjadikan tong sebagai alat musik pukul.
Waaah, ternyata disela-sela melukis, banyak terdengar suara-suara obrolan, bercanda, sedikit teriak, pokoknya ramai banget deeh. Belum lagi suara-suara dari peserta yang lain dan musik serta lagu dari panggung hiburan.

Jika dilihat dari jauh, nampak Todi, Ivan dan Tia berbaur dengan para siswa SMP dan SMU yang kebetulan duduk bersama mereka. Nggak ada rasa minder atau malu pada diri Todi, Ivan dan Tia. Masing-masing asyik melukis tong sampah. Begitu juga dengan orang-orang disekeliling mereka, nggak ada yang heran ataupun bertanya mengenai Todi, Ivan dan Tia. Mungkin mereka nggak mengerti kalau Todi, Ivan dan Tia merupakan remaja berkebutuhan khusus. Mereka juga nggak terganggu dengan celotehan ataupun perilaku Todi dan Ivan yang sedikit “unik” dan “lucu.” Meskipun kami membawa papan nama KOMUNITAS SENI AUTIS FREDOFIOS, tapi nggak ada peserta yang bertanya tentang autis.

“Gimana Mbak Tia, capek nggak?”
“Capek.” Jawab Tia sambil tersenyum.
“Senang nggak, ikut Mural tong sampah?”
“Senang.” Jawab Tia sambil tersenyum.

Dan merekapun mendapat sertifikat atas partisipasinya mengikuti Mural 1001 tong sampah. (Dewi)

Selasa, 23 Desember 2008

Rekreasi dan Outbond Remaja Autis ; Me and Mom...




Gelak tawa mewarnai hari Sabtu, bulan Desember 2008 di restourant dan pemancingan Banyu Mili Godean Sleman. Mutia datang bersama Bu Eni, mamanya. Todi datang dengan memakai celana pendek bersama Bu Dessi, mama tercinta yang semangat sekali mengikuti rekreasi dan outbond yang baru pertama kali diadakan keluarga besar Fredofios. Keluarga Dikran sangat kompak datang bersama-sama membawa bekal yang begitu yummi. Sedangkan Dian sudah sejak pagi datang ke sekolah membantu persiapan Bu Dewi dan Bu Della bersama Bu Cinta mama Dian. Ivan diantar ke sekolah oleh Pak Joko papanya, tapi lho...lho...pak...eh pak...koq bablas...?????
Rupanya Pak Joko tidak tahu kalau Ivan harus didampingi keluarganya untuk mengikuti rekreasi dan outbond karena kurang lengkap membaca surat pemberitahuan. Tapi untunglah Bu Lia mama Ivan menyusul ke Banyu Mili.
Pagi itu cuaca sangat cerah dan hangat, Pak Catur dan Bu Dewi pagi itu sudah berjalan-jalan keliling kolam untuk memasang tanda arah yang terbuat dari gabus untuk penunjuk jalan para siswa dan keluarga yang akan mengikuti outbond. Beberapa tugas sudah menanti mereka disetiap pos. Ada pos 1 yang dikuasai seorang guru seni, Pak Catur, lengkap dengan tugas-tugasnya yang unik dan mengerjai para peserta. Ada pos 2 ditengah-tengah kolam yang dinaungi Kepala Sekolah, disana peseta akan ditutup matanya dan harus masorang alias masuk diantara dua orang. Lalu pos 3, ada Pak Agung, banyak tugas disini, salah satunya peserta harus menari dan menjadi perawan/peragawati. Pos 4, peserta harus memanjat batu terjal di air terjun dan menyusuri dengan berpegang pada tali besar. Dan pos 5, peserta harus mengumpulkan bola dikolam.
Semua permainan dan tugas dalam setiap pos mengandung unsur kerjasama, kekompakan sebuah keluarga, kemandirian siswa, kepercayaan diri dan rekreasi. Namun sayang, tidak semua anggota keluarga bisa mengikuti karena ada yang sekolah, ada yang bekerja di luar kota dan kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan. Sehingga hampir semua siswa didampingi oleh mamanya. Jadilah acara Me and Mom. Hanya Opiq yang didampingi mama dan papanya.
Semua peserta tampak senang dan menikmati acara ini. Acara diakhiri dengan berenang, makan bersama dan berfoto bersama.






Sabtu, 20 Desember 2008

Siswa Fredofios Menyembelih Kambing di Idul Adha

Idul adha telah tibaaaaa

Acara khas dalam perayaan idul adha adalah penyembelihan hewan qurban berupa kambing, sapi, maupun unta. Tapi di Indonesia yang lazim disembelih adalah kambing dan sapi, karena unta jarang berkeliaran di Indonesia.

Pagi hari di Idul adha jelas terasa berbeda karena kumandang suara takbir terdengar di angkasa, lalu umat muslim berbondong bondong menuju lapangan atau masjid, kebanyakan dengan berjalan kaki karena diyakini pahalanya jauh lebih besar.

Setelah menunaikan shalat Ied dua rakaat, mendengarkan kutbah, dan bersilaturahmi dengan saudara dan tetangga, biasanya dilakukan pemotongan hewan qurban. Lalu daging hewan qurban dibagi rata, dimasukkan ke dalam kantung plastik dan dibagikan kepada yang berhak.

Di Fredofios yang sebagian besar siswa dan gurunya beragama Islam juga merayakan Idul Adha bersama, walaupun bukan pada hari H-nya. Tapi suasana Idul Adha sudah mulai terasa sejak beberapa hari sebelum.

Para siswa dikenalkan pada hari raya Idul Adha, shalat ied, pemotongan hewan qurban dan pembagian hewan kuban. Tentunya dengan cara yang berbeda karena para siswa Fredofios belum bisa menyembelih, gurunya juga belum tentu ahli, Dian dan Todi bahkan berkata"Bu, Pak kasihan ya kambingnya disembelih" Dian yang pernah melihat penyembelihan hewan qurbanpun berkata "Pak, aku takut lo lihat pemotongan kambing, banyak getihnya" . Kalau begitu bagaimana para guru mengajarkan cara penyembeliahan hewan qurban?????
He he he he................................................
Bukan guru sekolah autis kalau gak panjang akal dan kreatif.
1 minggu sebelum hari H pak Catur membawa beberapa lembar gabus besar.... loh buat apa pak?
Lalu pak Catur mengelem lembaran-lembaran gabus tersebut, jadi berlapis ...... nah tambah penasaran deh, mo buat kue lapis pak?
Hari berikutnya pak Catur memotong gabus berlapis itu menjadi beberapa bentuk dengan alat pemotong gabus, ada yang kotak, melengkung, lancip. Beberapa sisi dilubangi, ternyata bagian-bagian itu disambung, lalu dicat.
Ternyata setelah disambung dan dicat, gabus berlapis tersebut menjadi seekor kambing gabus he he he bagus dan lucu sekali bentuknya, tapi sayang kambingnya gundul tak berbulu. Eit jangan kecewa dulu, ternyata hari berikutnya pak catur menempelkan serutan kayu ke tubuh kambing gabus , berbulu deh kambing fredofios.
Tamu dan mahasiswa yang sedang bertandang sempat kaget melihat ada kambing yang berdiri di ruang ketrampilan Fredofios, setelah mendekat ternyata kambing gabus, mereka pun tertawa, memuji dan memfoto kambing gabus kami.

Akhirnya pada hari rabu simulasi peringatan Hari Raya Idul Adha-pun dilaksanakan. Walaupun Ivan beragama Katolik, tapi Ivan ikut kegiatan ini, Ivan duduk melihat teman-temannya beribadah.
Para siswa, dan beberapa guru menggelar karpet di Hall Fredofios, duduk bersila sambil bergantian mengumandangkan takbir, dilanjutkan melaksanakan Shalat Ied dua rakaat dibimbing oleh para guru........


eh eh Bu Della gak ikut simulasi kemana neh? setelah diselidiki Bu Dewi ternyata Bu Della sedang di dapur menyiapkan bumbu sate, hari rabu kan ada jam masak Ivan dan Todi, tapi Todi sedang tidak masuk. Selesai shalat, kambing gabus Fredofiospun memasuki hall, dengan diseret oleh Pak Catur, wah tali pengikat lehernya sempat lepas, mungkin tau kalo mau disembelih, tapi setelah dibisikin mo jadi hewan kurban Idul Adha, kambingnya mau.



Opiq, Tia, Ivan, dan Dian sudah siapmenyembelih kambing dengan bimbingan Pak Agung dan Pak Catur, lho yang mau menyembelih ada lima tapi kambingnya kan cuma satu, gimana nih? Tenang..tenang, ternyata setelah ditarik leher kambingnya panjang sekali jadi cukup untuk beberapa kali giliran simulasi.
Semua siswapun merasakan cara menyembelih, berikutnya adalah memotong daging qurban, kali ini yang dipotong adalah daging sungguhan yang dibawa masing-masing siswa dari rumah. Setelah dibagi sama rata dan dibungkus, para siswa membagikannya kepada warga sekolah Fredofios yang tinggal di ruang 1, ruang 2, ruang 3, ruang 4, dan ruang komputer. Di dalam ruang-ruang tersebut ada guru yang berperan menjadi penerima daging qurban.
Setelah pembagian selesai para siswa kembali ke Hall dan bercerita tentang kegiatan Idul Adha yang baru saja dilakukan.

Selesai kegiatan simulasi, Opiq, Tia dan Dian belajar komputer, sedangkan Ivan memasak dengan Bu Dewi dan Bu Della. Kali ini menunya adalah sate dengan bahan daging sapi hewan qurban, Pak Agung dan Pak Catur membantu membuat tempat pemanggangan dan membakar sate. Ivan terliahat senang sekali, dan kadang tidak sabaran untuk menaruh daging di tempat pemanggangan.
Setelah seluruh sate siap disajikan, Ivan mengambil piring, sendok, mengisi gelas-gelas dengan air aqua dan menata meja makan sendiri. Waaaah pintar, penataannya rapi.
Lalu lalu lalu..........nyaaaaaaaaaaam semua makan sate dengan lahap. (by Della&Dewi)


Kamis, 11 Desember 2008

KOMUNITAS SENI FREDOFIOS 'OYE!!'

Woro-woro di SLB Autis Fredofios ada komunitas seni looooo..................
Namanya Komunitas Seni Autis Fredofios.
Komunitas ini sudah punya jam tampil di dalam lingkungan sekolah maupun luar sekolah, di hadapan penonton yang tau tentang autis maupun penonton yang belum pernah mendengar tentang autis.
tujuan komunitas ini adalah untuk memfasilitasi apresiasi siswa Fredofios terhadap seni, dan juga untuk mensosialisasikan tentang hambatan perkembangan autis dan penyandangnya.

Berikut kegiatan yang telah ditampilkan oleh Kominatas Seni Autis Fredofios :
5 April 2008 Menampilkan tarian TOPENG EDAN pada acara ulang tahun Fredofios ke-5 dan
ulang tahun Nickolaus Wirangga (siswa Fredofios) ke-14
5 Juli 2008 Menampilkan tarian BLACK DIDOT pada acara Pentas Seni Reguler dalam rangka
ulang tahun kotamadya Yogyakarta
16 Agustus 2008 Menampilkan karnaval denga tema perjuangan. berjalan dari Benteng
Vredeburg menuju Taman Budaya Yogyakarta, lewat Taman Pintar. Lalu
kembali ke Benteng Vredeburg melalui rute yang sama
18 Oktober 2008 Menampilkan sendratari dan puisi MENITI PELANGI pada acara Syawalan
Keluarga Besar SLB Autis Fredofios
21 November 2008 Menampilkan sendratari dan puisi MENITI PELANGI sebagai opening
art Kelompok Gamblank Musik Teater pada lounching Gargut Entertainus
di Djamboer Coffe


Beragam opini terdengar dari penonton, yang secara umum mendukung tampilnya komunitas ini, karena dapat menunjukkan bahwa siswa autis juga dapat dilibatkan dalam kegiatan seni dan dapat dilatih untuk mempertunjukkan suatu penampilan seni.
Terimakasih pada para orangtua siswa yang telah memberikan ijin untuk menampilkan putra/putrinya, kepada para penonton yang mengapresiasi dan pihak penyelenggara yang telah memfasilitasi kegiatan Komunitas Seni Autis Fredofios.
Banyak terimakasiiiiiiiiiiiiih dan jangan lupa dukung Komunitas Seni Autis Fredofios di penampilan2 berikutnya

(by: Della Adelina)

Remaja Autis ; Sendratari dan Puisi "Meniti Pelangi."

Jumat, 21 November 2008, Gargut Entertainus mengundang Komunitas Seni Autis Fredofios untuk tampil sebagai pembuka dalam pementasan teater yang berjudul “The Light of Ken Dedes.” Oleh Gamblank Musikal Teater. Pementasan tersebut diadakan di Djambur Coffee, Jl. Gambir no 17 Deresan Yogyakarta, yang terletak di belakang percetakan Kanisius.
Komunitas Seni Autis Fredofios dibentuk atas dasar misi dan visi Sekolah Fredofios untuk menemukan dan mengembangkan minat dan bakat para siswa. Komunitas ini sudah sering tampil pentas dalam setiap acara di sekolah dan di luar sekolah. Para siswa dan guru yang tergabung dalam komunitas ini memiliki bakat-bakat luar biasa yang dapat ditampilkan untuk menghibur masyarakat, seperti menari, membaca puisi, bermain musik, dan drama/teater.
Teater The Light Of Ken Dedes oleh GMT (Gamblank Musikal Teater) diselenggarakan dalam rangka launching komunitas Gargut Entertainus. Teater ini disutradarai oleh M Ahmad Jalidu, music director oleh Bahrudin F. Bolu. The Light of Ken dedes diproduksi pertama kali pada tahun 2006 telah dipentaskan beberapa kali antara lain di Lembaga Indonesia perancis (2006), Halaman gedung Pamungkas Jogja (2007), dan Auditorium Universitas Muhammadiyah Magelang (2007). Kali ini dipanggungkan kembali di sebuah café dalam format yang lebih simple yang oleh GMT disebut secara “asal” dengan istilah “teater duduk”.
Komunitas Seni Autis Fredofios, dipercaya untuk tampil sebagai opening act. Dengan melihat judul pementasan teater tersebut, maka para siswa dan guru Fredofios memutuskan untuk menampilkan Sendratari dan Puisi “Meniti Pelangi”, peñata gerak oleh Catur Widiatmono dan penulis puisi oleh Della Adelina. Sendratari dan puisi “Meniti Pelangi.” Menceritakan tentang perjalanan hidup para calon penghuni surga (siswa diffable), mereka mempunyai seorang figur yang paling tua usianya, yaitu Opiq yang duduk di kursi, dan juga ada calon penghuni surga yang mengikuti jejak Opiq, yaitu Ivan yang duduk di bawah di depan Opiq. Ivan paling muda usianya di Fredofios. Sementara calon penghuni surga yang lain berusaha untuk saling mendukung dalam belajar dan mengembangkan bakat-bakat mereka. Para penari yaitu Tia, Dian, Todi. Sedangkan guru-guru yang mengayomi yaitu Dewi, Della dan Catur.
Dalam kesempatan itu, para guru juga mensosialisasikan autis dan kampanye Peduli Autis. Opiq ditampilkan untuk menebak hari. Opiq dapat menebak hari ketika disebutkan tanggal, bulan dan tahun tertentu. Sedangkan Ivan dapat menebak nama partai politik jika disebutkan nomor Parpol peserta Pemilu 2009.
Para orangtua dan keluarga siswa datang memberi dukungan dan mendampingi putra putri mereka. (by : Dewi Retno.P. S,Psi)